Tampilkan postingan dengan label INSPIRASIKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INSPIRASIKU. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Maret 2016

PANCASILA BUKAN SLOGAN BELAKA

Sampai hari ini penyakit bangsa Indonesia masih sama sedari dulu; tak sadar kesaktian pancasila. Padahal Pancasila telah lebih dari 70 tahun mempersatukan anak bangsa yg jumlah suku dan bahasanya paling beragam di dunia ini. Lihatlah bagaimana timur tengah hari ini..! Mereka hidup dengan satu bahasa namun mereka berperang menggunakan bahasa yg sama, mereka bercumbu rayu dengan kekasihnya menggunakan bahasa yg sama namun mereka mengeluarkan sumpah serapah menggunakan bahasa yg sama pula.
Tapi tengoklah negeri ini, negeri yang memiliki berbagai warna bahasa dan budaya, dari aksen bahasa yg lugas, tegas dan pedas, sampai yang ayu, mendayu bahkan mengharu biru. Dari yang pakai koteka sampai yang menggunakan selendang dan menutup kepala.
Tapi lebih dari itu semua pancasila kita ini adalah ajaran tentang fitrah kemanusiaan yang mengajarkan kepemimpinan berdasarkan kemanusiaan yg adil dan beradab agar terwujud persatuan dan kesatuan yang berkeTuhanan yg Maha Esa. Pertanyaannya kenapa negara di timur jauh sana sering berperang atas nama agama? Mereka membunuh warga tak berdosa saat bekas sujud masih memerah di jidat mereka, saat lilin mereka masih menyala di altar pemujaan, mereka melakukan genosida saat bau dupa masih menyelimuti tubuh mereka...!!!
Itu karena yang mereka ingin capai dalam keberagamaan mereka hanyalah ritual saja, bukan nilai paling sakral dalam sebuah aktifitas spiritual. Mereka hanya mengucapkan kata dalam lantunan do'a tanpa memahami makna.
Namun Pancasila kita bukan slogan belaka...
Ajaran pancasila kita adalah apa yg dicita-citakan Sidharta Gautama, Lao Tse, Musa as., Isa as., sampai Muhammad SAW. Karena kita beragama bukan sebatas puji-puja, tak sedangkal pada upacara ritual semata tapi menancap hingga akar makna terdalam ajaran semesta.
Salam Peradaban...!!
Makassar, 26-3-2016
~.Abdul A. Siolimbona.~

Rabu, 16 Maret 2016

LENTERA AQAL

Manusia adalah makhluk yang multidimensi, Memiliki berbagai kecenderungan dalam dirinya. Terkadang ia bergerak mengikuti kecenderungan egonya dan tak jarang pula yang mengikuti kehendak aqalnya.
Layaknya bumi dan langit yang menjadi simbol Alam, maka seperti itulah manusia. Bumi di saat malam menjadi gelap gulita, maka muncullah bulan untuk menjadi petunjuk bagi penghuni bumi baik di darat maupun di laut. Di saat siang berganti matahari datang untuk menjadi penerang bagi setiap jengkal tanah yang disinarinya, memberikan energi dan kehidupan untuk semua makhluk di muka bumi.
Begitupun aqal sebagai simbol langit pada diri manusia yang menjadi penuntun dalam setiap langkah hidupnya, sedangkan egonya sebagai simbol bumi yang melambangkan kegelapan. Selama manusia menjadikan aqalnya sebagai penerang maka ia tak akan pernah tersesat meski berpuluh-puluh tahun ia menapaki jalan hidupnya, sebaliknya jika manusia hanya memperturutkan egonya maka ia akan tersesat atau bahkan tidak mengalami kemajuan dalam proses hidupnya sehingga tak jarang kita mendapati seseorang akan tetap berada pada kondisi jiwanya seperti berpuluh-puluh tahun yang lalu saat ia masih kecil atau belum ber-aqil baligh, sehingga jiwanya masih kekanak-kanakan dan cenderung melakukan sesuatu diluar aqal sehat.
Manusia-manusia yang menjadikan aqal sebagai penuntun hidupnya kualitas jiwanya akan semakin meningkat hari demi hari sehingga terkadang kualitas jiwanya melebihi kualitas fisiknya, fisiknya masih muda tapi jiwanya sudah matang dan hidup dalam kebijaksanaan. Sedangkan manusia-manusia yang menjadikan egonya sebagai panglimanya meskipun fisiknya sudah tua tapi jiwanya masih kerdil, sekali lagi masih kekanak-kanakan. Karena kualitas seseorang diukur dari kualitas jiwanya dan kualitas jiwa berbanding lurus dengan kualitas aqal maka semakin kuat nyala lentera aqalnya semakin berkualitas hidupnya.
Maka tak heran kita disuruh menuntut ilmu tanpa henti hingga kita masuk ke liang lahat. Agar kita mampu menerangi dunia dengan cahaya aqal.

Makassar, 02-02-2016

~.A. A. Siolimbona.~

MALINO, TUHAN DAN SEBUAH RENUNGAN

Jika Belanda memiliki Denhaag sebagai kota perjanjian damai, maka Gowa mempunyai kota damai yang bernama Malino. Kota ini menjadi saksi bisu pembicaraan damai antara dua kelompok yang pernah bertikai di Maluku beberapa tahun yang lalu.
Kota berjuluk kota kembang ini memang memiliki panorama dan kondisi alam yang sangat cocok untuk meredakan ketegangan yang menyulut api pertikaian. Itulah yang membuat saya kagum pada Tuhan. Dia menjadikan beberapa tempat memiliki kondisi geografis yang berbeda-beda yang menurut kesimpulan Ibnu Khaldun dalam bukunya "Muqaddimah" memberikan pengaruh terhadap watak dan karakter penduduknya.
Pada wilayah yang letak geografisnya pada daerah pesisir, dengan suhu yang panas akan mempengaruhi watak dari masyarakat yang berdomisili pada wilayah tersebut sehingga karakter masyarakatnya cenderung tempramen dan suka bersenang-senang. Begitupun sebaliknya pada wilayah yang iklimnya dingin watak masyarakatnya cenderung lebih tenang.
Namun itu hanya faktor X. Masih ada faktor lain yang yang letaknyapada internal seseorang dalam mempengaruhi watak dan perilakunya yaitu aqal yang berfungsi sebagai alat dalam mengukur baik-buruknya suatu tindakan. Aqal inilah yang akan dijadikan nahkoda dalam mengarungi bahtera kehidupan.
Faktor Internal berupa Aqal ith akan menjadi dasar seseorang akan dihukum di akhirat atau tidak sehingga di hari akhir nanti seseorang tidak mengelak dengan mengatakan "Tuhan jangan siksa aku karena Engkaulah yang menciptakan dan menempatkan aku di daerah yang membuat aku menjadi beringas ketika hidup di bumi". Tuhan pun menjawab "memangnya Aqalmu itu tidak engkau gunakan? Atau engkau menganggapnya tidak boleh digunakan? Lalu untuk apa Aku menciptakannya?".
Tuhan itu selalu 'genius' dalam menyusun skenario. Dia membuat perbedaan tempat agar terjadi dinamika hidup manusia dengan berbagai karakternya, Namun tak lupa dia menjadikan Aqal untuk difungsikan sebagai alat pemersatu semua manusia ciptaanNya. Maka perjanjian Malino I & II adalah upaya mengajak orang-orang yang bertikai, untuk kembali menghargai hak hidup orang lain, mengajak kembali kepada tuntunan aqal bahwa berbeda tidak mesti saling membunuh.
Engkau seperti seperti dilepas di tengah hutan belantara, lalu Tuhan memberikan anda kompas sebagai alat untuk kembali ke rumah anda. Maka yang tidak menggunakannya adalah seburuk-buruknya Manusia.
Malino 11-02-2016
~. Abdul Ajiz Siolimbona .~

BUMI YANG DILIPAT

Live is process, mungkin kata itu tepat dalam menggambarkan proses hidup yang berjalan normal, karena sebuah proses tentu sangat mempengaruhi hasil yang nanti akan di dapat.
Di era yang serba modern saat ini kita sepertinya sudah sulit menemukan orang-orang normal yang berani berdarah-darah berjuang untuk mencapai sebuah hasil yang memuaskan. Kita hidup dimana teknologi memudahkan segala sesuatu. hal itu turut mempengaruhi cara berpikir dan bertindak. kebanyakan manusia telah dibonsai oleh atribut-atribut keserakahan sehingga cenderung mengorbankan nilai dan prinsip hidup dalam mencapai segala keinginannya.
Aku adalah salah satu anak manusia yang membenci hal itu. Bagiku lebih baik berdarah-darah dalam usaha menaiki anak tangga kehidupan sehingga terbiasa menahan terpaan topan diujung perjalanan daripada mengkhianati proses yang hanya akan membuatku mudah tumbang ketika badai kehidupan menerjang.
Lika-liku kehidupan memang menyajikan berbagai rintangan, namun aku masih percaya pada kalimat penuh makna bahwa "hasil tidak pernah mengkhianati sebuah proses". Layaknya sebuah rumah yang dibangun dengan penuh kesabaran untuk menghasilkan pondasi yang kokoh dan tembok yang kuat maka setiap topan pasti akan siap dihadang.
Dunia ini butuh pejuang untuk memahami seni dalam menaklukkan hidup. dunia ini butuh renungan panjang dan usaha tanpa batas untuk melalui setiap kesulitannya. Dunia ini bukan bukan kertas yang dilipat sehingga tak ada jalan pintas yang membawamu pada puncak kesuksesan tanpa melalui anak tangga kehidupan.
Hidup yang tak direnungkan tak layak dijalani (Aristoteles)
Makassar, 13 Februari 2016
~. Abdul Ajiz Siolimbona .~

Senin, 07 Maret 2016

GENERASI SAKIT-SAKITAN JILID II

Sore itu matahari sepertinya sudah tak tahan tuk kembali ke peraduannya, langit menyembulkan rona merahnya, bagaikan sesosok wanita yang tersipu malu oleh tatapan pria yang baru dikenalnya.
seorang lelaki paruh baya masih berpacu dengan waktu, menyusuri setiap sudut tanah dengan ditemani dua ekor sapi yang membantunya membajak satu-satunya ladang sawah warisan orang tua. sepertinya ia tak memperdulikan deru mesin pabrik yang berdiri sombong tak jauh dari sungai yang membatasi desanya dan sebuah pusat perbelanjaan moderen di sebelahnya. Pak Arya adalah paman Anwar yang hidupnya sangat sederhana. satu petak sawah yang terletak di pinggiran desa sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama isteri dan seorang anaknya. ia tampak cekatan memberikan komando kepada dua ekor gembalaan yang setia membantunya mengolah tanah agar siap ditanami keesokan harinya.
Tiba-tiba nampak dari kejauhan seorang pemuda berjalan di sela-sela rerumputan yang tumbuh menghijau nan lebat. tubuhnya yang lemah dan langkahnya yang lambat tak berhasil membunuh semangatnya tuk bertemu dengan paman yang sangat dirindukannya. Rupanya Anwar baru saja datang dari kota, ia tak mampu membendung keinginannya tuk menengok adik bungsu ibunya yang sudah setengah abad hidup dipinggiran kota sebagai petani sawah.
"Hai nak kapan kamu datang..?" langsung saja pak Arya menyambutnya dengan senyuman.
"Aku baru saja tiba. sesampainya aku di rumah, bibi memintaku untuk memanggil paman pulang, sudah hampir malam katanya..!!!" Anwar berusaha menjelaskan alasannya langsung menemui pamannya di sawah.
Pak Arya pun segera menyudahi pekerjaannya dan segera menyambut putra kakaknya yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri itu. mereka kemudian menyempatkan diri bercengkrama di tepian sawah sambil mengistirahatkan otot-otot yang sudah sangat lelah menggerakkan tubuh kesana-kemari.
"Bagaimana keadaanmu nak...? tanya pak Arya kepada Anwar setelah sebelumnya keduanya berpelukkan sejenak untuk melepaskan rindu.
"Alhamdulillah pak, aku masih merasa baik-baik saja walaupun badanku masih lemah" jawab Anwar singkat.
"Baguslah, banyak istirahat nak. Silahkan duduk sebentar, paman sudah lama ingin ngobrol-ngobrol denganmu" pinta pak Arya.
Anwar yang masih menyimpan rasa penasaran terhadap bangunan besar yang baru dibangun di dekat desa pamannya pun segera menanyakannya pada pak Arya " bangunan apa itu pak...? tanya Anwar sambil menunjuk ke arah bangunan tersebut.
Pak Arya sudah bisa menduga keponakannya itu pasti baru melihat bangunan itu. sambil melepaskan topi jerami yang menutupi kepalanya ia pun menjawab " itu bangunan baru, pusat perbelanjaan" jawab pak Arya sambil menoleh ke Anwar.
"Oh pantesan aku baru lihat, tapi kok saya lihat tadi sungai di sekitar mall itu airnya mulai menguning ya Pak?" tanya Anwar keheranan.
Pak Arya yang masih dilumuri keringat tampak mengibas-ngibaskan topi ke arah badannya sejenak kemudian berusaha memberikan penjelasan.
"Air itu menguning karena limbah yang di buang oleh pabrik disebelahnya itu. limbahnya tidak diolah dulu sebelum di buang ke kali, banyak ikan-ikan yang mati keracunan." pak Arya kemudian melanjutkan " Mereka itu sudah terbalik tujuan hidupnya..!".
seketika kening Anwar nampak Menukik ke atas. " kok terbalik pak...? memangnya kenapa..? Anwar langsung mengejar dengan pertanyaannya.
Sambil tersenyum Pak Arya Menjawab " Kita ini kan diamanahkan untuk mengelola bumi beserta isinya, kita harus memanfaatkan Ilmu dan teknologi untuk kebaikan, bukan kerusakan" Pak Arya berusaha menjelaskan.
Anwar berusaha menyerap dan memahami kata-kata pamannya. sejenak suasana menjadi hening karena keduanya terdiam dalam pelukkan senja yang sudah hampir menghilang.
tiba-tiba Pak Arya melanjutkan, kali ini wajahnya tampak lebih serius " hidup mereka begitu rumit, selalu dihantui oleh keinginan-keinginan yang tak ada habisnya, mereka sudah tak mampu menguasai keputusannya. dikendalikan oleh mesin pencetak uang yang mereka cipta sendiri". Anwar langsung menyela " Mesin uang..?. Iya...!!! mall dan pabrik itu adalah mesin uang yang mereka ciptakan tapi kemudian tanpa mereka sadar mereka dikendalikan oleh apa yang mereka buat sendiri" jawab pak Arya mantap. setelah itu pak Arya menunjuk kedua sapinya " Nak lihat sapi milik bapak itu, aku pelihara sapi-sapi itu dari kecil sampai sudah besar begini, sekarang aku bisa mengendalikan mereka. aku bisa memerintahkan mereka kapanpun aku mau. aku lebih merdeka..!!! sedangkan mereka, waktunya sebagian besar mereka habiskan untuk mesin-mesin uang mereka, mereka tak bisa mengelak dari kondisi itu" kemudian Pak Arya menatap mata keponakannya yang sedari tadi terlihat begitu keheranan. namun tak lama kepala Anwar terlihat mengangguk-angguk seperti ada sesuatu yang baru ia sadari.
"Kini aku mengerti kenapa engkau bangga menjadi petani" sergah Anwar.
tanpa menunggu komentar dari pak Arya, Anwar menimpali " Rupanya paman merasa menjadi orang paling merdeka, makanya paman betah menekuninya". "ha..ha..ha..ha..kamu ini bisa aja, sudah ayo kita pulang. hari sudah mulai gelap" nanti bibi kamu khawatir lagi " Pak Arya berusaha menutup pembicaraan yang mengalir penuh kehangatan namun bermakna itu.
keduanya kemudian berjalan menyusuri jalan sempit diantara sawah-sawah menuju rumah Pak Arya. Anwar berusaha membantu pamannya membawakan berbagai perkakas yang dimiliki Pak Arya.
Semoga cerita di atas bisa memberikan kita sedikit kesadaran cara terbaik kita untuk hidup itu bukan mengenai seberapa mewah lingkungan yang kita tempati tapi seberapa banyak kita bisa tetap menjalankan tugas kita sebagai manusia di muka bumi
Makassar, 3-3-2016
~.Abdul A. Siolimbona.~

GENERASI SAKIT-SAKITAN

Di sebuah gang sempit kota metropolitan berjalan tertatih-tatih seorang pemuda yang terlihat sesekali mendekatkan telapak tangannya ke hadapan mulutnya. rupanya ia sesekali mengalami batuk berdahak yang sangat mengganggunya. nampak jelas keringat membasahi mukanya yang pucat meskipun terus diterpa terik matahari dan asap knalpot kendaraan yang sering ia jumpai ketika melewati beberapa sudut kota. ya Anwar adalah seorang pemuda yang sudah sepuluh tahun menderita Tuberkulosis (TBC). ketiadaan biaya membuatnya hanya pasrah saja menjalani sisa hidupnya dengan cara yang paling baik menurutnya.
Meskipun tubuh Anwar tak sehat lagi namun boleh jadi dialah orang yang paling bersemangat menjalani hari-harinya. suatu hari dia sempat menceritakan padaku tentang aktifitasnya dan kondisi tubuhnya yang berhasil menarik perhatianku. aku menghadangnya dengan pertanyaan saat tiba-tiba kami berpapasan sepulangnya aku membeli rokok. " apa yang kamu lakukan Anwar?" begitu cara sederhanaku membuka dialog kami. "kamu setiap hari aku lihat memungut sampah yang berserakan di sepanjang gang dan juga diselokan" aku melanjutkan.
sambil berusaha duduk di dekat sebuah karung yang kusam ia menjawab "aku ingin menjadi orang yang bisa melakukan kebaikan sebisa mungkin sebelum aku mati", saya jadi penasaran dengan orang ini. tanpa berpikir panjang segera kusergap dia dengan pertanyaanku "bagaimana caranya?". pandangannya kemudian menengadah ke langit, dengan perlahan ia menghembuskan nafasnya lalu kemudian melanjutkan
"meskipun hidupku tidak panjang lagi tapi aku ingin jiwaku tetap abadi sebagai orang yang telah berbuat baik untuk keselamatan orang lain". sambil membetulkan posisi duduknya di atas sebuah kayu lapuk ia berseloroh " aku dilahirkan di gang kumuh ini, orang-orang di sini tak tahu arti pentingnya hidup...!!!" "aku terserang penyakit ini karena lingkungan di sini sangat kotor. aku ingin tempat ini berubah, untuk itu setiap hari aku berkeliling membersihkan setiap sudut gang dan jalanan".
dia terlihat begitu mantap dengan pilihannya yang tentu tak membawa keuntungan apa-apa secara materil.
Terik matahari yg menerpa kami mulai menaikkan temperatur suhu tubuh, akupun segera pamit pada lelaki istimewa itu. tapi sebelum kami berpisah sambil berusaha bangkit dari duduknya dia sempat berujar " fisikku memang lemah dan wajahku pucat sehingga kamu dengan mudah bisa menebak kondisi tubuhku, tapi banyak orang disekitar kita yang jiwanya sedang sakit tapi tidak banyak yang tahu", ia kemudian mengambil karung yang sedari tadi menemaninya menyusuri gang-gang sempit dan kemudian melanjutkan nasehatnya padaku "meskipun hidup mewah dan berpendidikan tinggi tapi buang sampah sembarangan tandanya jiwa sedang sakit", ia menyeka keringat yang mulai mengalir di sela-sela matanya kemudian kembali melempariku dengan beberapa kalimat " yang paling berbahaya dari itu semua adalah orang yang suka memasukkan sampah ke pikiran orang...!!!" seketika aku dibuat kaget dengan proposisi kalimatnya, tapi sebelum keningku bertambah kerut ia melanjutkan "orang yang sering memasukkan sampah ke dalam pikiran orang lain adalah yang paling sering kita anggap normal, padahal mereka yang paling berbahaya bagi kehidupan. mereka menyuntikkan ajaran kekerasan, pembunuhan, pelecehan, kebebasan atas nama agama dan sains sehingga dunia ini semakin tercemari akibat kebencian dan peperangan" dia kemudian berjalan perlahanan ke ujung gang sementara aku terus menatapnya kosong, sampai akhirnya di tikungan sempit dia kemudian menghilang.

Makassar, 1-3-2016
~.Abdul A. Siolimbona.~


JADILAH EMBUN

Saya selalu yakin dan percaya bahwa alam ini bukan hanya terdiri atas trilyunan atom, tapi ada fenomena lain yang menjadi latar cerita dari tarian akbar jagad semesta. inilah pelajaran yang seharusnya mampu kita petik dari setiap alur gerak pada panggung mayapada.

Aku sampai saat ini begitu terpana dengan setiap skenario Tuhan pada setiap entitas di sekitarku, bahkan di dalam diriku. bagaimana tidak, hanya pada setetes embun kita dapat mereguk hikmah tentang ajaran kecintaan yang sungguh teramat tulus. kebeningannya seakan-akan sedang menertawakan berbagai ungkapan cinta manusia yang kebanyakan masih dibumbui oleh berbagai macam kotoran yang yang justeru mengurangi kadar kesucian cinta yang sedang mereka suguhkan.

Embun tidak pernah menyematkan identitasnya tentang jenis air apakah ia sebelumnya, proses yang dilaluinya telah membuatnya melepaskan sekat-sekat yang membuat dia berbeda dengan air lainnya. padahal bisa jadi sebelumnya setetes embun itu berasal dari danau-danau yang terletak di kaki gunung, dari mata air yang menyembul keluar dari balik-balik bukit, atau bahkan dari samudera yang terhampar begitu luas. mereka kemudian melepaskan jubah-jubah kesombongannya atas nama sekte-sekte pada air dan kemudian melebur dalam kemurnian air yang sesungguhnya di saat hari mulai menampakkan cahaya di pagi hari.

Bukankah itu ajaran yang teramat agung yang patut kita teguk?. saat ini kebanyakan manusia terlalu sibuk menegaskan identitas mereka kepada alam, identitas yang membuat mereka enggan untuk memberikan kehidupan kepada orang lain yang sedang sekarat dalam kesulitan yang tak pernah mereka mimpikan. Identitas yang membentuk sekte-sekte dan aksesoris-aksesoris sosial yang mereka anggap sebagai cara untuk menentukan nilai kehormatan seseorang dihadapan yang lainnya.

Padahal nilai kemanusiaan seseorang tidak pernah mengenal sekte-sekte itu sebagaimana embun tidak pernah menegaskan sekte-sektenya yang berasal dari balik bukit, kaki gunung atau hamparan samudera.

bisakah kita hidup dalam ketulusan? sekali lagi bukalah jendela anda di pagi hari, tengoklah pada rerumputan yang menghampar hijau dan mari kita belajar pada setitik embun di sana.

Makassaar, 8-3-2016

~.Abdul A. Siolimbona.~


Minggu, 31 Januari 2016

KANFAS SEMESTA



Pernah suatu ketika aku melihat sebuah lukisan besar pada sebuah pigura, lukisan di atas kanfas itu abstrak, perlu pemahaman dan cita rasa seni yang tinggi untuk memahami pesan dan makna yang ingin disampaikan. Banyak coretan di sana-sini, begitupun aneka warna yang saling berlomba menarik perhatian para penikmat seni untuk menangkap setiap sudut keindahan dari kombinasi warnanya, keindahan desainnya dan makna filosofisnya. Sedangkan mereka yang tak memiliki jiwa seni akan menganggap bahwa itu hanyalah coretan2 yang tak teratur serta tak memiliki pesan apa2 selain warna-warni yang yang saling menumpuk, seakan berebut tempat untuk eksis dengan identitasnya masing-masing.

Seperti itu juga alam semesta, ia layaknya sebuah lukisan. Terdapat berbagai macam ciptaan dari jasad renik yang hanya mampu diamati dengan mikroskop sampai benda raksasa yang beratnya sampai berjuta-juta ton. Ada yang paling dekat dengan diri kita yaitu bakteri2 yang dititipkan Tuhan di jasad kita sampai benda-benda angkasa yang hanya mampu diamati dengan bantuan alat pengamat benda angkasa. Belum lagi ciri, desain dan perilaku yang melekat pada setiap ciptaan yang menjadi identitasnya. Layaknya coretan-coretan abstrak yang dilukis di sebuah kanfas maha besar yang sarat akan makna. Bagi orang tak berakal hal itu hanyalah sekumpulan fenomena yang tak bermakna apa-apa selain kebetulan-kebetulan yang ada di sekeliling kita, bahkan di dalam diri kita. Namun bagi kaum berakal akan menjadikan rasionya sebagai lokus yang menggambarkan citra semesta secara utuh lengkap dengan makna yang terkandung dalam kanfas semesta. 

Bagaikan lukisan yang teramat luas sehingga untuk memahaminya secara utuh perlu sebuah cermin cembung raksasa untuk menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh Sang Pelukis Semesta, namun dalam hal ini cermin cembung itu tidak di luar tapi di dalam diri kita, lebih tepatnya bersama diri kita. itulah rasio kita Tinggal kita mau menggunakannya atau tidak.

Gedung Pasca Sarjana UMI lt. 4
Minggu, 31 Januari 2016

~. Abdul Ajiz Siolimbona .~