Tampilkan postingan dengan label Pariwisata Maluku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata Maluku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Juni 2018

Ancaman Serta Prospek Kawasan Mangrove Pantai Gumumae dan Desa Sesar



Alam sebagai bagian tak terpisahkan dari manusia memiliki berbagai macam potensi baik secara ekonomi maupun ekologi. Berbagai macam ekosistem yang hidup di dalamnya selain menjadi sumber bahan pangan, bahan papan (material bangunan) juga menyimpan potensi wisata alam (ekowisata). Sayangnya, kurangnya pemahaman dan kesadaran, mengakibatkan masyarakat maupun para pengambil kebijakan sering abai dalam pemanfaatan potensi yang ada, alih-alih dimanfaatkan dalam rangka peningkatan taraf hidup masyarakat dan pendapatan daerah, justeru sebaliknya alam dirusak oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab akibat lemahnya pengawasan dan penegakan hukum yang pada akhirnya akan berdampak pada hilangnya tumpuan ekonomi serta meningkatnya resiko saat terjadi bencana alam.
Salah satu potensi alam yang dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan ekonomi masyarakat yaitu kawasan hutan mangrove. keberadaan hutan mangrove mampu menyediakan nutrient yang bermanfaat bagi biota yang hidup di dalamnya, bentuk akar mangrove yang khas menyerupai cakar menjadi daerah pemijahan (spawning ground) yang baik bagi biota laut. Selain itu, hutan mangrove juga dapat meminimalisir resiko bencana alam seperti abrasi pantai, tsunami serta terpaan angin puting beliung. Akar-akar mangrove yang kuat mampu menahan hempasan gelombang dari laut serta menjadi perangkap partikel material yang menyebabkan terjadinya sedimentasi secara terus menerus. Begitupun saat terjadi gelombang tsunami, akar-akar mangrove mampu menahan laju gelombang yang mengalir dari laut saat terjadinya tsunami sehingga dapat meminimalisir kerusakan yang terjadi, bahkan meminimalisir jatuhnya korban jiwa.
Di daerah Kabupaten Seram Bagian Timur, keberadaan kawasan hutan mangrove dapat ditemukan antara lain di Pulau Akat, Kecamatan Tutuk Tolu dan di pesisir Desa Sesar, Kecamatan Bula. Keberadaan hutan mangrove tersebut menjanjikan potensi ekonomi yang baik jika dimanfaatkan secara maksimal. Namun selama ini keberadaan hutan mangrove baik di pesisir Desa Sesar maupun di Pulau Akat belum mampu dimaksimalkan, baik sebagai destinasi wisata maupun sebagai kawasan konservasi.
Icon Pantai Gumumae yang menjadi Spot favorit pengunjung untuk melakukan pengambilan gambar


Kondisi Kawasan Mangrove Pantai Gumumae (Tanjung Sesar).
Keberadaan kawasan Hutan Mangrove di Pantai Gumumae (Tanjung Sesar) beberapa tahun yang lalu dilengkapi dengan jembatan berbahan kayu yang mengitari kawasan mangrove. Adanya fasilitas tersebut mampu menarik perhatian para pengunjung untuk datang menikmati suasana alam di sekitar kawasan hutan mangrove. Namun, saat ini jembatan tersebut telah mengalami kerusakan total sehingga tidak bisa lagi digunakan. Hal ini tentu berdampak pada menurunnya daya tarik Pantai Gumumae sebagai objek wisata unggulan di Kabupaten Seram Bagian Timur.
Di samping kawasan hutan mangrove di Pantai Gumumae, terdapat juga kawasan mangrove di pesisir Desa Sesar, tepatnya di kawasan Kampung Nelayan, Sesar. Namun dalam beberapa tahun terakhir laju penebangan terhadap mangrove cukup tinggi. hal ini dikarenakan berkembangnya pemukiman penduduk serta tidak maksimalnya pengawasan oleh aparat terkait. Penebangan mangrove tentu berdampak pada hilangnya daerah pemijahan (Spawning Ground) serta daerah pembesaran (nursery ground) bagi biota laut serta habitat bagi hewan lainnya sehingga menjadi sumber keanekaragaman hayati (Biodiversity). Kerusakan hutan mangrove di Desa Sesar tentu juga meningkatkan resiko saat terjadinya bencana alam. Fungsi akar-akar mangrove yang dapat menjadi perangkap sedimen sehingga mencegah terjadinya abrasi pantai telah dirusak demi kebutuhan lahan pemukiman. Selain itu, ancaman kerusakan akibat tsunami juga semakin tinggi dengan ditiadakannya mangrove seagai penahan laju ombak dari laut. terpaan angin puting beliung juga yang harusnya bisa dihalangi oleh mangrove, namun dengan penebangan maka resiko kerusakan perumahan warga akibat angin putting beliung semakin tinggi. Hal ini pernah di rasakan oleh masayarakat Graha Indah di Balikpapan yang harus menjadi korban angin puting beliung. Akibatnya, sebanyak 300 rumah warga mengalami kerusakan.
Penebangan mangrove di pesisir Desa Sesar selain akibat kebutuhan pemukiman, juga untuk keperluan pembangunan jalan yang menghubungkan jalan utama ke pemukiman nelayan. Sering kali pembangunan mengabaikan kepentingan ekologi. Tidak tersedianya Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) mengakibatkan pembangunan yang mendahulukan sektor tertentu dan mengabaikan sektor yang lain. Padahal dengan adanya Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dapat menjaga keseimbangan dan keserasian wilayah antar sektor sehingga tercipta keharmonisan dengan alam guna meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat yang berdampak pada terwujudnya integritas nasional.
Penebangan mangrove untuk pemukiman warga di Kampung Nelayan, Desa Sesar,
Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur-Maluku


Potensi ekonomi dan ekowisata  
Sebuah Perbandingan
Keberadaan hutan mangrove jika diberdayakan dengan baik dapat menjadi tempat rekreasi, lokasi penelitian, kawasan konservasi serta sumber pemasukan ekonomi baik bagi masyarakat maupun bagi keuangan daerah. Sebagai contohnya Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan yang saat ini telah menjadi ikon wisata Kota Tarakan dengan beragam fungsi yakni pendidikan, hiburan serta Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Pintu masuk Kawasan Konservasi Hutan Mangrove dan Bekantan 

Objek wisata seluas 8,8 ha yang mulai dikelola sejak tahun 2001 ini juga menjadi rumah bagi puluhan ekor Bekantan (Nasalis larvatus)-sejenis kera yang memiliki hidung panjang- yang mulai dikembangkan di kawasan konservasi ini sejak tahun 2003. Kera-kera tersebut selain menjadi maskot daripada kawasan wisata Ancol, juga merupakan maskot wisata Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan. Di tahun tersebut Dinas Pariwisata Kota Tarakan selaku pengelola mengembangbiakkan 6 ekor. Hingga saat ini jumlah Bekantan telah mencapa 40 ekor. Selain menyediakan hewan langka seperti Bekantan, pemerintah Kota Tarakan juga menyediakan perpustakaan, pos istirahat dan gazebo. Aparat pemerintah setempat dalam membangun kawasan wisata mangrove juga melibatkan pihak PERTAMINA sehingga bisa menggunakan dana CSR (Corporate Social Responsibility) guna membangun berbagai fasilitas yang dibutuhkan.
Keberadaan fasilitas penunjang dikawasan wisata tersebut cukup memadai serta terawat dengan baik, letak kawasan wisata mangrove Kota Tarakan juga sangat strategis karena letaknya yang berdekatan dengan pusat kota sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat baik menggunakan angkutan pribadi maupun angkutan umum. Hal ini yang menjadi salah satu keunggulan Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan.
Suasana Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan Kota Tarakan

Berdasarkan hasil penelitian tim peneliti dari Universitas Borneo-Tarakan diketahui bahwa dengan adanya kawasan wisata konservasi mangrove di Kota Tarakan tersebut mampu memberikan efek ekonomi kepada masyarakat (multiplier effect) sehingga dari 90 orang yang diwawancarai 20% memiliki pendapatan di atas Rp. 2.000.000/ bulan, 13,33% memiliki pendapatan berkisar Rp. 1.500.000-2.000.000/bulan, 37,78% memiliki penghasilan sebesar Rp. 1.000.000-1.500.000/bulan, 21,11% memiliki penghasilan sebesar Rp. 500.000-1.000.000/bulan dan sisanya, yakni 7,78% berpenghasilan kurang dari 500.000.

Prospek Hutan Mangrove Pantai Gumumae
Jika kita hendak membandingkan karakteristik hutan mangrove, Kota Tarakan dan hutan mangrove Pantai Gumumae maka bisa dikatakan pantai Gumumae memiliki karakteristik yang khas sehingga menjadi keunggulan tersendiri. Keunggulannya yakni selain topografi Pantai Gumumae berupa lumpur, khususnya di bagian dalam yang menjadi tempat mangrove tumbuh, juga merupakan pantai berpasir putih di bagian luar yang menghadap laut lepas dimana ratusan pohon cemara laut (Casuarina equisetifolia)  tumbuh, hal ini tentu menjadi keunikan tersendiri bagi Pantai gumumae. Selain itu, keberadaan berbagai macam reptil seperti buaya dan ular bisa dijadikan sebagai objek pengamatan para peneliti.
Hamparan pohon cemara laut (Casuarina equisetifolia) di Kawasan Wisata Pantai Gumumae

Letak pantai Gumumae yang berdekatan dengan pusat Kota Bula juga menjadi keunggulan tersendiri untuk dikembangkan karena mudah dijangkau oleh masyarakat. Namun, yang menjadi tugas daripada pemerintah setempat agar memastikan adanya fasilitas penunjang kawasan wisata mangrove seperti jembatan kayu yang akan digunakan oleh pengunjung masuk ke dalam area hutan mangrove, MCK, Musholla, fasilitas penerangan, serta jalan setapak dipinggir pantai yang nyaman sehingga momen liburan panjang (seperti lebaran saat ini hehe) masyarakat tak mesti jauh-jauh ke memilih tempat berekreasi.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana merubah pola pembangunan pemukiman yang tidak lagi mengorbankan ekositem mangrove agar penebangan terhadap mangrove bisa diminimalisir. Terkait mitigasi bencana, terjaganya kawasan hutan mangrove dapat melindungi pemukiman warga dari ancaman abrasi pantai, tsunami, rembesan air laut, terpaan angin puting beliung. Selain itu, dengan tingginya kunjungan wisatawan di kawasan wisata mangrove juga akan menciptakan efek ekonomi yang pada akhirnya akan meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Para pengrajin bisa menjajahkan hasil kerajinannya, para penjual makanan dan minuman disediakan bangunan sewa untuk menjajakan makanan dan minumannya, keberadaan warung makan akan meningkatkan permintaan sayur, ikan, beras serta kebutuhan lainnya. tingginya permintaan ikan akan meningkatkan pendapatan nelayan, tingginya aktifitas nelayan akan meningkatkan kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan begitu seterusnya. begitulah efek ekonomi yang akan tercipta. Tentu pembangunan kawasan wisata hutan mangrove ini tidak hanya dibebankan kepada pemerintah, namun dapat juga memanfaatkan perusahaan-perusahan tambang yang beroperasi di Kota Bula melalui mekanisme CSR (Corporate Social responsibilities).

Tulisan di atas mengulas pamnfaatan potensi satu objek wisata. jika terealisasi maka betapa banyak masyarakat yang terangkat dari lembah kemiskinan. bagaimana jika semua objek wisata di bumi Ita Wotu Nusa ini dapat dimaksimalkan? tentu lebih banyak lagi masyarakat yang meningkat taraf hidupnya dan terangkat dari jurang kemiskinan.
Semoga!

12/06/18


  

Jumat, 22 Januari 2016

Bair Island; Paradise in Moluccas, Indonesia

Kota Tual mungkin terdengar asing ditelinga beberapa orang Indonesia karena lokasinya yang terpencil di Maluku dan bersebelahan dengan Kabupaten Maluku Tenggara yang terkenal dengan Pasir putih halusnya yaitu pantai Pasir Panjang atau Ngurbloat. Tapi siapa sangka Kota Tual menyimpan pulau tersembunyi yang belum di explore oleh wisatawan. Salah satunya adalah Pulau Bair
.
Pulau Bair memiliki keunikan dan daya tarik yang berbeda dengan pulau pulau kecil disekitarnya, yaitu memiliki 2 teluk dengan air laut jernih dan tenang, vegetasi mangrove dan tebing batu. Sekilas Pulau Bair mirip dengan Raja Ampat Papua tapi dalam skala kecil. Pulau Bair juga sebagai tempat hidup anak ikan Hiu jenis Blackpit.Untuk menuju Pulau Bair cukup mudah. Dimulai dengan perjalanan darat dari pusat Kota Tual menuju Desa Dullah Darat dengan jarak tempuh kurang lebih 30 menit dengan menggunakan kendaraan roda 2 atau 4. Kita juga bisa menggunakan angkutan umum menuju Desa Dullah dari terminal angkutan umum yang ada di pelabuhan kapal Kota Tual. Setelah sampai di pelabuhan/dermaga Dullah Darat kita lanjutkan dengan perjalanan laut, menggunakan perahu speed yang harus kita sewa karena lokasi Pulau Bair terletak diujung dari deretan pulau - pulau yang ada di Desa Dullah Laut. Waktu tempuh kurang lebih 1 jam perjalanan.Dalam Perjalanan ke Pulau Bair kita akan melewati beberapa pulau kecil, salah satunya adalah Pulau Adrenan. Pulau Adrenan adalah pulau kecil seluas 500 m2 dengan daya tarik pasir pantai yang halus dan garis pasir pantai yang bergeser ke timur oleh karena perubahan musim timur dan barat, begitu juga sebaliknya. 

Pulau Adrenan cocok untuk yang senang bermain air di pantai dan berfoto-fot selfie.Setelah melewati beberapa pulau yang ada di Desa Dullah Laut kita akan sampai di Pulau Bair dan akan langsung disuguhi oleh tebing tebing batu yang mengelilingi Pulau Bair dan juga klo beruntung kita akan dapat melihat anak ikan hiu blackpit. setelah sampai di teluk pulau bair kita akan disuguhi kiri kanan tebing batu yang tinggi dan beberapa tebing batu yang ada di tengah teluk. Bila kondisi laut surut atau meti kita akan menemukan beberapa pantai yang bisa disinggahi karena tidak tertutup oleh air laut.

Tips bagi teman teman yang ingin berkunjung kesana, bawa sunblock dan makanan minuman secukupnya serta jangan lupa membawa pulang sampah makanan atau minuman untuk tetap menjaga kelestarian alam. Waktu terbaik untuk mengunjungi Pulau Bair adalah pada musim Timur atau pada Pergantian musim Timur ke barat atau pergantian musim dari Barat ke Timur, bulan maret - bulan agustus. Karena lautnya tenang dan ombaknya kecil(.kotawisatano1.blogspot.com)

Perjalanan menuju pulau bair sangatlah mudah, misalnya untuk yang berada di luar pulau kei (Kota Tual dan Kab. Maluku Tenggara) bisa menggunkana transportasi laut (kapal laut) dan juga transportasi udara (pesawat). Di pulau kei sudah ada bandara penerbangan sipil milik pemerintah kab. Malra yang dioperasikan sejak tahun 2014 dan juga pelabuhan Yosudarso yang terletak di Kota Tual untuk wisatawan yang ingin melakukan perjalanan melalui jalur laut

Biaya perjalanan untuk datang ke pulau kei memang biayanya agak mahal, apalagi menggunakan pesawat, tetapi anda jangan hawatir sekali datang ke sini anda sudah bisa menikmati semua tempat wisata di sini selain pulau bair. Tempat wisata lainnya seperti Pasir Panjang yang terkenal dengan pasirnya yang halus seperti terigu, Ohoiew Island Resort yang terkenal dengan pasirnya yang menjulur ke laut seperti lidah dengan jarak sekitar 1 km, dan tempat-tempat wisata linnya yang tak kalah indah.Setelah sampai di bandara Lannggur yang terletak di desa Ibra, anda bisa naik angkot, ojek atau mobil rental untuk mencari penginapan di langgur atau kota tual, dengan biaya transportasi darat yang murah, (angkot : Rp. 5000, ojek : 15.000, mobil rental : Rp. 150.000). Bagi yang menggunkan kapal laut, anda bisa langsung keluar berjalan kaki mencari penginapan di sekitar pelabuhan atau di dalam kota Tual dengan menggunkana ojek (biaya : Rp. 5000)

Untuk menuju ke pulau bair anda bisa naik angkot di terminal mobil wara menuju ke desa dullah (biaya : Rp. 5000). Setelah sampai di desa dullah silahkan memesan tiket transportasi laut berupa spit boat dengan biaya perjalanan Rp. 50.000. Perjalanan menuju ke pulau bair menggunakan waktu sekitar satu jam. Memang agak lama sih tapi jangan khawatir karena selama perjalanan anda akan melewati pulau-pulau kecil lainnya yang sangat indah. (kaiislands.blogspot.co.id)





EKSOTISME BANDA


Kalau bicara soal Indonesia bagian timur, banyak orang pasti akan langsung menyebutkan Flores, Labuan Bajo, Komodo, Ora, ataupun Raja Ampat. Enggak banyak yang tahu Banda Neira. Padahal keindahannya boleh sandingkan dengan tempat-tempat yang sudah disebutkan sebelumnya.
Banda Neira bukan sekedar perkampungan biasa yang terletak di Pulau Banda, Maluku. Banyak banget hal yang bisa kamu lakukan disini. Mulai dari wisata budaya sampai wisata alam semuanya ada.
Kamu bisa lakukan wisata sejarah sekaligus budaya dengan bertandang ke Benteng Belgica, Benteng Nassau, Istana Mini, dan bangunan-bangunan kolonial yang biasanya ada di ruas jalan yang sama. Karena pernah jadi basis pertahanan tentara VOC, kamu akan banyak temui gaya bangunan khas Belanda disini. Ancient place gitu deh (bintang.com)
Benteng ini awalnya adalah benteng milik Portugis yang didirikan sekitar tahun 1611. Namun setelah Portugis keluar dari Banda, Belanda mengambil benteng ini untuk menjadi tempat VOC dalam mempertahankan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku.
Di sini, pengunjung bisa melihat rumah Bung Hatta selama dalam pengasingan di Banda Neira tahun 1937. Masuklah ke dalam untuk melihat kamar tidur Bung Hatta serta barang-barang peninggalan dan meja-kursi tempat Bung Hatta mengajar. Meski terlihat berdebu, meja, kursi dan papan tulis peninggalan Hatta masih terlihat di kamar belakang.
VOC membangun kota Banda Neira dengan mendirikan bangunan istana bernama Istana Mini Neira. Istana tersebut berfungsi sebagai tempat tinggal Gubernur VOC. VOC lebih dahulu membagun istana ini setahun sebelum pembangunan Istana Merdeka di Batavia atau Jakarta.

"Rumah Budaya Banda Neira"

Letak Rumah Budaya Banda Neira tepat di depan Delfika Guest House. Di Rumah Budaya ini terdapat berbagai catatan sejarah. Barang-barang peninggalan VOC berupa berbagai jenis meriam, keramik Tiongkok, mata uang, serta beberapa lukisan mengenai situasi pada zaman tersebut.
Yang mencolok adalah di ruang utama museum tergantung sebuah lukisan raksasa yang menceritakan pembantaian orang-orang terpandang di Banda tahun 1621. Mereka biasa disebut dengan orang kaya, dan pada masa itu mereka ditawan oleh VOC lalu dibawa ke Benteng Nassau. Di depan anak istri serta keluarganya, semua orang kaya di Banda tersebut dibunuh secara kejam oleh para samurai dari Jepang yang disewa VOC.
Dalam buku "Sejarah Banda Naira" yang ditulis Des Alwi ditulis penuturan saksi mata, Letnan Laut Nicols van Waert mengenai peristiwa yang terjadi pada 8 Mei 1621 itu
"Keempat puluh tawanan digiring ke dalam benteng (Fort Nassau) yaitu kedelapan orang kaya yang paling berpengaruh, mereka dituduh sebagai pemicu kerusuhan, yang lainnya digiring bersama-sama bagaikan sekawanan domba. Sebuah kurungan bambu berbentuk bulat dibangun di luar benteng, dan sambil terikat erat dengan tali dan dijaga ketat oleh para penjaga para tawanan itu dipaksa masuk(kompas.com)

"Port Nassau (Benteng Air)"

Sekitar tahun 1603, masuklah Bangsa Belanda dan membuat pertahanan dengan membangun "Port Nassau" atau benteng air sekitar tahun 1607 di atas pondasi bekas benteng yang dibangun Portugis.Pembangunan benteng air ini melibatkan 700 prajurit Belanda dan dipimpin Admiral Verhoef dibawah pemerintahan gubernur jenderal VOC yang opertama, Pieter Both.
"Boleh dibilang organisasi dagang Belanda atau VOC pertama kali juga dibentuk di Pulau Banda," katanya.
Dikatakan Port Nassau atau benteng air karena posisi bangunannya dikelilingi parit atau kanal-kanal air saat itu, meski kondisi sekarang sudah mengering.
Kepala Kecamatan Banda Naira, Kadir Sarilan menjelaskan, saat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang melakukan pemugaran tahap pertama terhadap benteng air tersebut dengan menggunakan APBN senilai Rp1,316 miliar.
Dari Port Nassau, Kolonial Belanda di bawah perintah Gubernur Jenderal Pieter Both dan dilanjutkan dengan gubernur jenderal lainnya mulai mendirikan bangunan-bangunan antik lain bergaya Eropa antara lain istana mini dengan tiang pilar yang tinggi dan banyak, benteng Belgica yang berbentuk prisma, gereja, gedung pertemuan untuk kegiatan minum teh dan tempat santai para pejabat organisasi dagang Belanda VOC, baik sipil maupun militer. (suara.com)

"Benteng Belgica"

Benteng ini berbentuk segi lima. Di setiap sudutnya terdapat menara pengawas dengan jendela pengintai. Beberapa meriam pun mengarah ke laut untuk menghancurkan musuh-mush yang mendekat.
Benteng Belgica mampu menampung hingga 50 serdadu. Dari atas benteng, pemandangan Pulau Banda dan Pulau Gunung Api yang terletak di depannya, terlihat jelas. keunikan tersendiri dari benteng ini yaitu arsiteknya yang berbentuk gedung Penthagon di Amerika Serikat. Pemandangan matahari terbenam pun terlihat sangat cantik dari tempat ini. Terletak hanya 15 menit berjalan kaki dari pelabuhan Banda Naira, tempat ini wajib Anda datangi (travel.detik.com)
Karena posisinya yang strategis, sehingga dari sini pengunjung bisa melihat ke segala penjuru pulau. Kala itu keberadaan Benteng Belgica memudahkan VOC mengawasi kapal-kapal yang keluar masuk Banda.
namun apabila dilihat dari semua penjuru niscaya hanya akan terlihat 4 buah sisi. Konstruksi benteng terdiri atas dua lapis bangunan dan untuk memasukinya, pengunjung atau wisatawan harus menaiki anak tangga. Di bagian tengah benteng terdapat sebuah ruang terbuka luas untuk para tahanan. Di tengah ruang terbuka, pengunjung bisa melihat dua buah sumur rahasia yang konon menghubungkan benteng dengan pelabuhan dan Benteng Nassau yang berada di tepi pantai.
Tahun 1622 oleh JP Coen benteng ini diperbesar. Tahun 1667 diperbesar lagi oleh Cornelis Speelman. Berikutnya Gubernur Jenderal Craft van Limburg Stirum memerintahkan agar benteng ini dipugar dan menjadi markas militer Belanda hingga tahun 1860 (kompas.com).
"Rumah Prngasingan Bung Hatta"
Selain itu pengunjung juga akan menemukan berbagai koleksi peninggalan Bung Hatta seperti kaca mata tua, kemeja sederhana, dan surat-surat dari sang Bunda. Di dinding bangunan terpajang foto-foto Bung Hatta dan tokoh-tokoh nasional lainnya yang sudah mulai kusam (kompas.com)

"Istana Mini"

Istana Mini Neira menjadi satu-satunya bangunan besar dan indah saat itu di kawasan ini. Di depannya terhampar pantai biru yang jernih dan Pulau Banda Besar. Di sekitar Istana Mini dibangun rumah-rumah berukuran besar sebagai tempat tinggal dari petinggi orang Eropa yang datang ke Banda. Berjalan kaki atau bersepeda di Banda Neira ibarat menelusuri jalan-jalan di Eropa karena banyaknya bangunan beraksitektur Eropa (kompas.com).

"wisata bawah laut banda"

Banda adalah pulau yang sangat sempurna dan cocok untuk dijadikan arena menyelam, snorkeling atau bahkan jalan-jalan. Terletak kurang lebih 132 kilometer tenggara Ambon, ini adalah gugusan pulau terkecil yang sangat indah di ujung timur Indonesia. Dengan karang yang berwarna-warni akan menghipnotis Anda untuk tetap menikmati keindahan eksotis tersembunyi di balik air yang jernih.
Pulau ini adalah pulau yang sempurna untuk kegiatan menyelam, baik bagi para pemula maupun profesional sekalipun. Ke mana pun Anda pergi, Anda akan selalu menemukan keindahan, sejarah yang luar biasa, penduduk yang ramah, dan beberapa terumbu karang dunia yang beragam secara biologis.
Banda adalah surga bagi para penyelam yang datang dari seluruh dunia untuk menjelajahi beberapa tempat menyelam yang paling terpencil dan belum terjamah di dunia. Tunggu apalagi, segera berkemas dan jelajahi Pulau Banda Maluku.