Selasa, 12 Juni 2018

Ancaman Serta Prospek Kawasan Mangrove Pantai Gumumae dan Desa Sesar



Alam sebagai bagian tak terpisahkan dari manusia memiliki berbagai macam potensi baik secara ekonomi maupun ekologi. Berbagai macam ekosistem yang hidup di dalamnya selain menjadi sumber bahan pangan, bahan papan (material bangunan) juga menyimpan potensi wisata alam (ekowisata). Sayangnya, kurangnya pemahaman dan kesadaran, mengakibatkan masyarakat maupun para pengambil kebijakan sering abai dalam pemanfaatan potensi yang ada, alih-alih dimanfaatkan dalam rangka peningkatan taraf hidup masyarakat dan pendapatan daerah, justeru sebaliknya alam dirusak oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab akibat lemahnya pengawasan dan penegakan hukum yang pada akhirnya akan berdampak pada hilangnya tumpuan ekonomi serta meningkatnya resiko saat terjadi bencana alam.
Salah satu potensi alam yang dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan ekonomi masyarakat yaitu kawasan hutan mangrove. keberadaan hutan mangrove mampu menyediakan nutrient yang bermanfaat bagi biota yang hidup di dalamnya, bentuk akar mangrove yang khas menyerupai cakar menjadi daerah pemijahan (spawning ground) yang baik bagi biota laut. Selain itu, hutan mangrove juga dapat meminimalisir resiko bencana alam seperti abrasi pantai, tsunami serta terpaan angin puting beliung. Akar-akar mangrove yang kuat mampu menahan hempasan gelombang dari laut serta menjadi perangkap partikel material yang menyebabkan terjadinya sedimentasi secara terus menerus. Begitupun saat terjadi gelombang tsunami, akar-akar mangrove mampu menahan laju gelombang yang mengalir dari laut saat terjadinya tsunami sehingga dapat meminimalisir kerusakan yang terjadi, bahkan meminimalisir jatuhnya korban jiwa.
Di daerah Kabupaten Seram Bagian Timur, keberadaan kawasan hutan mangrove dapat ditemukan antara lain di Pulau Akat, Kecamatan Tutuk Tolu dan di pesisir Desa Sesar, Kecamatan Bula. Keberadaan hutan mangrove tersebut menjanjikan potensi ekonomi yang baik jika dimanfaatkan secara maksimal. Namun selama ini keberadaan hutan mangrove baik di pesisir Desa Sesar maupun di Pulau Akat belum mampu dimaksimalkan, baik sebagai destinasi wisata maupun sebagai kawasan konservasi.
Icon Pantai Gumumae yang menjadi Spot favorit pengunjung untuk melakukan pengambilan gambar


Kondisi Kawasan Mangrove Pantai Gumumae (Tanjung Sesar).
Keberadaan kawasan Hutan Mangrove di Pantai Gumumae (Tanjung Sesar) beberapa tahun yang lalu dilengkapi dengan jembatan berbahan kayu yang mengitari kawasan mangrove. Adanya fasilitas tersebut mampu menarik perhatian para pengunjung untuk datang menikmati suasana alam di sekitar kawasan hutan mangrove. Namun, saat ini jembatan tersebut telah mengalami kerusakan total sehingga tidak bisa lagi digunakan. Hal ini tentu berdampak pada menurunnya daya tarik Pantai Gumumae sebagai objek wisata unggulan di Kabupaten Seram Bagian Timur.
Di samping kawasan hutan mangrove di Pantai Gumumae, terdapat juga kawasan mangrove di pesisir Desa Sesar, tepatnya di kawasan Kampung Nelayan, Sesar. Namun dalam beberapa tahun terakhir laju penebangan terhadap mangrove cukup tinggi. hal ini dikarenakan berkembangnya pemukiman penduduk serta tidak maksimalnya pengawasan oleh aparat terkait. Penebangan mangrove tentu berdampak pada hilangnya daerah pemijahan (Spawning Ground) serta daerah pembesaran (nursery ground) bagi biota laut serta habitat bagi hewan lainnya sehingga menjadi sumber keanekaragaman hayati (Biodiversity). Kerusakan hutan mangrove di Desa Sesar tentu juga meningkatkan resiko saat terjadinya bencana alam. Fungsi akar-akar mangrove yang dapat menjadi perangkap sedimen sehingga mencegah terjadinya abrasi pantai telah dirusak demi kebutuhan lahan pemukiman. Selain itu, ancaman kerusakan akibat tsunami juga semakin tinggi dengan ditiadakannya mangrove seagai penahan laju ombak dari laut. terpaan angin puting beliung juga yang harusnya bisa dihalangi oleh mangrove, namun dengan penebangan maka resiko kerusakan perumahan warga akibat angin putting beliung semakin tinggi. Hal ini pernah di rasakan oleh masayarakat Graha Indah di Balikpapan yang harus menjadi korban angin puting beliung. Akibatnya, sebanyak 300 rumah warga mengalami kerusakan.
Penebangan mangrove di pesisir Desa Sesar selain akibat kebutuhan pemukiman, juga untuk keperluan pembangunan jalan yang menghubungkan jalan utama ke pemukiman nelayan. Sering kali pembangunan mengabaikan kepentingan ekologi. Tidak tersedianya Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) mengakibatkan pembangunan yang mendahulukan sektor tertentu dan mengabaikan sektor yang lain. Padahal dengan adanya Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dapat menjaga keseimbangan dan keserasian wilayah antar sektor sehingga tercipta keharmonisan dengan alam guna meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat yang berdampak pada terwujudnya integritas nasional.
Penebangan mangrove untuk pemukiman warga di Kampung Nelayan, Desa Sesar,
Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur-Maluku


Potensi ekonomi dan ekowisata  
Sebuah Perbandingan
Keberadaan hutan mangrove jika diberdayakan dengan baik dapat menjadi tempat rekreasi, lokasi penelitian, kawasan konservasi serta sumber pemasukan ekonomi baik bagi masyarakat maupun bagi keuangan daerah. Sebagai contohnya Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan yang saat ini telah menjadi ikon wisata Kota Tarakan dengan beragam fungsi yakni pendidikan, hiburan serta Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Pintu masuk Kawasan Konservasi Hutan Mangrove dan Bekantan 

Objek wisata seluas 8,8 ha yang mulai dikelola sejak tahun 2001 ini juga menjadi rumah bagi puluhan ekor Bekantan (Nasalis larvatus)-sejenis kera yang memiliki hidung panjang- yang mulai dikembangkan di kawasan konservasi ini sejak tahun 2003. Kera-kera tersebut selain menjadi maskot daripada kawasan wisata Ancol, juga merupakan maskot wisata Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan. Di tahun tersebut Dinas Pariwisata Kota Tarakan selaku pengelola mengembangbiakkan 6 ekor. Hingga saat ini jumlah Bekantan telah mencapa 40 ekor. Selain menyediakan hewan langka seperti Bekantan, pemerintah Kota Tarakan juga menyediakan perpustakaan, pos istirahat dan gazebo. Aparat pemerintah setempat dalam membangun kawasan wisata mangrove juga melibatkan pihak PERTAMINA sehingga bisa menggunakan dana CSR (Corporate Social Responsibility) guna membangun berbagai fasilitas yang dibutuhkan.
Keberadaan fasilitas penunjang dikawasan wisata tersebut cukup memadai serta terawat dengan baik, letak kawasan wisata mangrove Kota Tarakan juga sangat strategis karena letaknya yang berdekatan dengan pusat kota sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat baik menggunakan angkutan pribadi maupun angkutan umum. Hal ini yang menjadi salah satu keunggulan Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan.
Suasana Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan Kota Tarakan

Berdasarkan hasil penelitian tim peneliti dari Universitas Borneo-Tarakan diketahui bahwa dengan adanya kawasan wisata konservasi mangrove di Kota Tarakan tersebut mampu memberikan efek ekonomi kepada masyarakat (multiplier effect) sehingga dari 90 orang yang diwawancarai 20% memiliki pendapatan di atas Rp. 2.000.000/ bulan, 13,33% memiliki pendapatan berkisar Rp. 1.500.000-2.000.000/bulan, 37,78% memiliki penghasilan sebesar Rp. 1.000.000-1.500.000/bulan, 21,11% memiliki penghasilan sebesar Rp. 500.000-1.000.000/bulan dan sisanya, yakni 7,78% berpenghasilan kurang dari 500.000.

Prospek Hutan Mangrove Pantai Gumumae
Jika kita hendak membandingkan karakteristik hutan mangrove, Kota Tarakan dan hutan mangrove Pantai Gumumae maka bisa dikatakan pantai Gumumae memiliki karakteristik yang khas sehingga menjadi keunggulan tersendiri. Keunggulannya yakni selain topografi Pantai Gumumae berupa lumpur, khususnya di bagian dalam yang menjadi tempat mangrove tumbuh, juga merupakan pantai berpasir putih di bagian luar yang menghadap laut lepas dimana ratusan pohon cemara laut (Casuarina equisetifolia)  tumbuh, hal ini tentu menjadi keunikan tersendiri bagi Pantai gumumae. Selain itu, keberadaan berbagai macam reptil seperti buaya dan ular bisa dijadikan sebagai objek pengamatan para peneliti.
Hamparan pohon cemara laut (Casuarina equisetifolia) di Kawasan Wisata Pantai Gumumae

Letak pantai Gumumae yang berdekatan dengan pusat Kota Bula juga menjadi keunggulan tersendiri untuk dikembangkan karena mudah dijangkau oleh masyarakat. Namun, yang menjadi tugas daripada pemerintah setempat agar memastikan adanya fasilitas penunjang kawasan wisata mangrove seperti jembatan kayu yang akan digunakan oleh pengunjung masuk ke dalam area hutan mangrove, MCK, Musholla, fasilitas penerangan, serta jalan setapak dipinggir pantai yang nyaman sehingga momen liburan panjang (seperti lebaran saat ini hehe) masyarakat tak mesti jauh-jauh ke memilih tempat berekreasi.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana merubah pola pembangunan pemukiman yang tidak lagi mengorbankan ekositem mangrove agar penebangan terhadap mangrove bisa diminimalisir. Terkait mitigasi bencana, terjaganya kawasan hutan mangrove dapat melindungi pemukiman warga dari ancaman abrasi pantai, tsunami, rembesan air laut, terpaan angin puting beliung. Selain itu, dengan tingginya kunjungan wisatawan di kawasan wisata mangrove juga akan menciptakan efek ekonomi yang pada akhirnya akan meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Para pengrajin bisa menjajahkan hasil kerajinannya, para penjual makanan dan minuman disediakan bangunan sewa untuk menjajakan makanan dan minumannya, keberadaan warung makan akan meningkatkan permintaan sayur, ikan, beras serta kebutuhan lainnya. tingginya permintaan ikan akan meningkatkan pendapatan nelayan, tingginya aktifitas nelayan akan meningkatkan kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan begitu seterusnya. begitulah efek ekonomi yang akan tercipta. Tentu pembangunan kawasan wisata hutan mangrove ini tidak hanya dibebankan kepada pemerintah, namun dapat juga memanfaatkan perusahaan-perusahan tambang yang beroperasi di Kota Bula melalui mekanisme CSR (Corporate Social responsibilities).

Tulisan di atas mengulas pamnfaatan potensi satu objek wisata. jika terealisasi maka betapa banyak masyarakat yang terangkat dari lembah kemiskinan. bagaimana jika semua objek wisata di bumi Ita Wotu Nusa ini dapat dimaksimalkan? tentu lebih banyak lagi masyarakat yang meningkat taraf hidupnya dan terangkat dari jurang kemiskinan.
Semoga!

12/06/18


  

Sabtu, 26 Maret 2016

BUDAYA LOKAL DITENGAH PUSARAN ARUS GLOBALISASI


Assalamualaikum & salam perjuangan sang calon revolusioner zaman...
Izinkanlah kutuangkan sedikit kegelisahanku padamu, untuk sekedar membuatku lega karena telah meyampaikannya padamu tentang sikapku terhadap zaman yg semakin lama semakin mengkhawatirkan. Saudaraku sebangsa dan setanah air...
Bangsa Indonesia kini telah terseret dalam kencangnya arus zaman yang arahnya kian sulit untuk dikendalikan. Ditengah kencangnya arus zaman itu bangsa ini ternyata belum mempunyai benteng yang kokoh untuk memproteksi berbagai dampak negatife yang akan terjadi akibat dampak globalisasi yangg sarat dengan sejumlah kepentingan barat sehingga orang-orang mengatakan bahwa jika terjadi globalisasi maka sudah dipastikan bahwa agenda westernisasi (Membarat-baratkan) suatu negara pun menjadi agenda wajib karena westernisasi adalah substansi dari globalisasi itu sendiri.
Ideologi bangsa yg belum dijiwai kian memperparah nasib anak negeri sebagai target  dari program globalisasi dan westernisasi tersebut. Terlalu lama negara ini berjibaku dalam perang ideologi yg akhirnya menggiring kita pada kondisi yg saya sebut “Persimpangan Peradaban”. Masyarakat Indonesia yang mendeklarasikan dirinya sebagai pengusung pancasila pun belum mampu menjadikan pancasila sebagai nafas kehidupannya yg mampu menjawab semua permasalahan dalam berbangsa dan bernegara. Sementara itu sebagian rakyat di negeri ini menganggap bahwa Ideologi sosialisme-lah yang mampu mengantarkan bangsa Indonesia ke gerbang kemerdekaan, yaitu merdeka dari segala bentuk penjajahan, baik dalam segi sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, politik dan berbagai segi kehidupan lainnya. Di sisi lain ada para kaum kapitalis (kaum pengusaha besar) yg asyik dalam kehidupannya yg penuh dengan sistem kapitalistik yg sudah jelas menghisap darah rakyat dengan monopoli ekonominya.
Kebudayaan sebagai Identitas.
Modernisasi sebagai bagian dari instrument globalisasi telah menghantarkan manusia untuk melakukan inovasi di segala bidang demi kemudahan hidupnya, tak terkecuali inovasi di bidang informasi dan teknologi (IT). Namun perlu disadari bahwa kemajuan teknologi informasi yg telah dicapai saat ini bagaikan “bola liar”, sehingga jika tidak dikendalikan dengan baik maka akan berdampak buruk bagi kehidupan umat manusia baik sekarang maupun di masa akan datang. Tapi sayang sampai hari ini kemajuan IT itu sendiri secara global telah memakan korban yg makin lama kian bertambah, tak terkecuali di Indonesia sendiri. Untuk itu, diperlukan suatu instrument yang konstruktif agar mampu menghadapi kencangnya hempasan gelombang kemajuan IT tsb.Indonesia secara historis memiliki peradaban yg cukup maju di mata dunia sehingga seharusnya mampu menjawab permasalahan ini. Peradaban yg telah diwariskan oleh nenek moyang kita dari kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Mataram, Gowa, kesultanan Ternate & Tidore dll., seharusnya dijadikan senjata ampuh yg mampu menyelamatkan anak bangsa dari efek radikal kemajuan teknologi dan Informasi (IT) yang terus memperkenalkan budaya barat yang kebanyakan bersifat destruktif. Opini publik terus di giring pada cara hidup yangg tidak lagi sesuai dengan falsafah hidup leluhur kita yg hidup pada zaman kerajaan dan kesultanan. Warisan budaya leluhur negeri ini yg lebih memanusiakan manusia kini perlahan tapi pasti telah mulai ditinggalkan. Budaya sopan santun, Sikap Jujur dan kesatria, kehidupan yg sederhana, berjiwa sosial yg tinggi serta berbagai norma-norma lainnya kini telah menjadi barang langka yg sulit ditemukan dalam kehidupan bermasyarakat dewasa ini.
Konteks SBT
Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) yg merupakan bagian dari elemen bangsa harusnya mampu merespon gejolak sosial yg terjadi dewasa ini. Sebagai daerah yangg kental dengan adat harusnya telah mempersiapkan diri dalam manghadapi serangan budaya destruktif yg setiap saat dapat mengancam kebudayaan anak negeri. Kearifan lokal masyarakat yg ada tetap di jaga dan dilestarikan sehingga selain melakukan langkah proteksi demi kelangsungan hidup ke depan, juga merupakan bentuk usaha untuk mempertahankan identitas sebagai masyarakat yang berbudaya. Tari-tarian daerah, Upacara adat, nyanyian rakyat, kerajinan rakyat, pakaian adat serta berbagai aset budaya lainnya seharusnya dipandang dengan sudut pandang bercorak filosofis yang mengajarkan tentang nilai-nilai humanisme (kemanusiaan) bukan sekedar barang-barang serta gerakan-gerakan yg tanpa makna. Sehingga masyarakat menjadi tersadarkan tentang pentingnya menjaga nilai-nilai humanisme dalam melakukan interaksi sosial seperti apa yg telah di lakukan oleh Leluhur di masa lalu. Penanaman Ideologi yang berbasis kultural sejauh ini merupakan metode yang cukup efektif untuk melakukan penyadaran dalam melakukan suatu perubahan, perubahan ke arah masyarakat yang berbudaya luhur serta sadar akan identitasnya sebagai masyarakat adat, sehingga nantinya tidak teralalienasi (terasingkan) dari kebudayaan sendiri yg lebih memanusiakan manusia. Perencanaan yg tersistematis perlu dilakukan untuk mencapai harapan-harapan itu sehingga upaya pelestarian kearifan masyarakat lokal ini dapat dilestarikan ke pada seluruh generasi yg ada. Upaya memperkenalkan aset budaya ini perlu ditanamkan sejak dini mulai dari jenjang pendidikan yang paling rendah sampai ke tingkat Perguruan Tinggi. Selain itu, upaya melestarikan kearifan masyarakat lokal juga berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat kecil karena menjadi daya tarik bagi wisatawan baik lokal maupun manca negara sehingga langkah ini merupakan sebuah alternatife dalam menjawab permasalahan daerah dalam berbagai segi seperti ekonomi, sosial (pengangguran), budaya, dll. Untuk itu diperlukan kesadaran bersama untuk merealisasikan apa yang cita-cita bersama tentang penyelamatan generasi dan upaya pembangunan ekonomi, sosial, budaya di bumi Ita Wotu Nusa yg kita cintai ini. Semoga keterbatasan pemikiranku ini bermanfaat bagi pembacanya.Wassalam & Salam Perjuangan…

PANCASILA BUKAN SLOGAN BELAKA

Sampai hari ini penyakit bangsa Indonesia masih sama sedari dulu; tak sadar kesaktian pancasila. Padahal Pancasila telah lebih dari 70 tahun mempersatukan anak bangsa yg jumlah suku dan bahasanya paling beragam di dunia ini. Lihatlah bagaimana timur tengah hari ini..! Mereka hidup dengan satu bahasa namun mereka berperang menggunakan bahasa yg sama, mereka bercumbu rayu dengan kekasihnya menggunakan bahasa yg sama namun mereka mengeluarkan sumpah serapah menggunakan bahasa yg sama pula.
Tapi tengoklah negeri ini, negeri yang memiliki berbagai warna bahasa dan budaya, dari aksen bahasa yg lugas, tegas dan pedas, sampai yang ayu, mendayu bahkan mengharu biru. Dari yang pakai koteka sampai yang menggunakan selendang dan menutup kepala.
Tapi lebih dari itu semua pancasila kita ini adalah ajaran tentang fitrah kemanusiaan yang mengajarkan kepemimpinan berdasarkan kemanusiaan yg adil dan beradab agar terwujud persatuan dan kesatuan yang berkeTuhanan yg Maha Esa. Pertanyaannya kenapa negara di timur jauh sana sering berperang atas nama agama? Mereka membunuh warga tak berdosa saat bekas sujud masih memerah di jidat mereka, saat lilin mereka masih menyala di altar pemujaan, mereka melakukan genosida saat bau dupa masih menyelimuti tubuh mereka...!!!
Itu karena yang mereka ingin capai dalam keberagamaan mereka hanyalah ritual saja, bukan nilai paling sakral dalam sebuah aktifitas spiritual. Mereka hanya mengucapkan kata dalam lantunan do'a tanpa memahami makna.
Namun Pancasila kita bukan slogan belaka...
Ajaran pancasila kita adalah apa yg dicita-citakan Sidharta Gautama, Lao Tse, Musa as., Isa as., sampai Muhammad SAW. Karena kita beragama bukan sebatas puji-puja, tak sedangkal pada upacara ritual semata tapi menancap hingga akar makna terdalam ajaran semesta.
Salam Peradaban...!!
Makassar, 26-3-2016
~.Abdul A. Siolimbona.~

Rabu, 16 Maret 2016

LENTERA AQAL

Manusia adalah makhluk yang multidimensi, Memiliki berbagai kecenderungan dalam dirinya. Terkadang ia bergerak mengikuti kecenderungan egonya dan tak jarang pula yang mengikuti kehendak aqalnya.
Layaknya bumi dan langit yang menjadi simbol Alam, maka seperti itulah manusia. Bumi di saat malam menjadi gelap gulita, maka muncullah bulan untuk menjadi petunjuk bagi penghuni bumi baik di darat maupun di laut. Di saat siang berganti matahari datang untuk menjadi penerang bagi setiap jengkal tanah yang disinarinya, memberikan energi dan kehidupan untuk semua makhluk di muka bumi.
Begitupun aqal sebagai simbol langit pada diri manusia yang menjadi penuntun dalam setiap langkah hidupnya, sedangkan egonya sebagai simbol bumi yang melambangkan kegelapan. Selama manusia menjadikan aqalnya sebagai penerang maka ia tak akan pernah tersesat meski berpuluh-puluh tahun ia menapaki jalan hidupnya, sebaliknya jika manusia hanya memperturutkan egonya maka ia akan tersesat atau bahkan tidak mengalami kemajuan dalam proses hidupnya sehingga tak jarang kita mendapati seseorang akan tetap berada pada kondisi jiwanya seperti berpuluh-puluh tahun yang lalu saat ia masih kecil atau belum ber-aqil baligh, sehingga jiwanya masih kekanak-kanakan dan cenderung melakukan sesuatu diluar aqal sehat.
Manusia-manusia yang menjadikan aqal sebagai penuntun hidupnya kualitas jiwanya akan semakin meningkat hari demi hari sehingga terkadang kualitas jiwanya melebihi kualitas fisiknya, fisiknya masih muda tapi jiwanya sudah matang dan hidup dalam kebijaksanaan. Sedangkan manusia-manusia yang menjadikan egonya sebagai panglimanya meskipun fisiknya sudah tua tapi jiwanya masih kerdil, sekali lagi masih kekanak-kanakan. Karena kualitas seseorang diukur dari kualitas jiwanya dan kualitas jiwa berbanding lurus dengan kualitas aqal maka semakin kuat nyala lentera aqalnya semakin berkualitas hidupnya.
Maka tak heran kita disuruh menuntut ilmu tanpa henti hingga kita masuk ke liang lahat. Agar kita mampu menerangi dunia dengan cahaya aqal.

Makassar, 02-02-2016

~.A. A. Siolimbona.~

MALINO, TUHAN DAN SEBUAH RENUNGAN

Jika Belanda memiliki Denhaag sebagai kota perjanjian damai, maka Gowa mempunyai kota damai yang bernama Malino. Kota ini menjadi saksi bisu pembicaraan damai antara dua kelompok yang pernah bertikai di Maluku beberapa tahun yang lalu.
Kota berjuluk kota kembang ini memang memiliki panorama dan kondisi alam yang sangat cocok untuk meredakan ketegangan yang menyulut api pertikaian. Itulah yang membuat saya kagum pada Tuhan. Dia menjadikan beberapa tempat memiliki kondisi geografis yang berbeda-beda yang menurut kesimpulan Ibnu Khaldun dalam bukunya "Muqaddimah" memberikan pengaruh terhadap watak dan karakter penduduknya.
Pada wilayah yang letak geografisnya pada daerah pesisir, dengan suhu yang panas akan mempengaruhi watak dari masyarakat yang berdomisili pada wilayah tersebut sehingga karakter masyarakatnya cenderung tempramen dan suka bersenang-senang. Begitupun sebaliknya pada wilayah yang iklimnya dingin watak masyarakatnya cenderung lebih tenang.
Namun itu hanya faktor X. Masih ada faktor lain yang yang letaknyapada internal seseorang dalam mempengaruhi watak dan perilakunya yaitu aqal yang berfungsi sebagai alat dalam mengukur baik-buruknya suatu tindakan. Aqal inilah yang akan dijadikan nahkoda dalam mengarungi bahtera kehidupan.
Faktor Internal berupa Aqal ith akan menjadi dasar seseorang akan dihukum di akhirat atau tidak sehingga di hari akhir nanti seseorang tidak mengelak dengan mengatakan "Tuhan jangan siksa aku karena Engkaulah yang menciptakan dan menempatkan aku di daerah yang membuat aku menjadi beringas ketika hidup di bumi". Tuhan pun menjawab "memangnya Aqalmu itu tidak engkau gunakan? Atau engkau menganggapnya tidak boleh digunakan? Lalu untuk apa Aku menciptakannya?".
Tuhan itu selalu 'genius' dalam menyusun skenario. Dia membuat perbedaan tempat agar terjadi dinamika hidup manusia dengan berbagai karakternya, Namun tak lupa dia menjadikan Aqal untuk difungsikan sebagai alat pemersatu semua manusia ciptaanNya. Maka perjanjian Malino I & II adalah upaya mengajak orang-orang yang bertikai, untuk kembali menghargai hak hidup orang lain, mengajak kembali kepada tuntunan aqal bahwa berbeda tidak mesti saling membunuh.
Engkau seperti seperti dilepas di tengah hutan belantara, lalu Tuhan memberikan anda kompas sebagai alat untuk kembali ke rumah anda. Maka yang tidak menggunakannya adalah seburuk-buruknya Manusia.
Malino 11-02-2016
~. Abdul Ajiz Siolimbona .~

BUMI YANG DILIPAT

Live is process, mungkin kata itu tepat dalam menggambarkan proses hidup yang berjalan normal, karena sebuah proses tentu sangat mempengaruhi hasil yang nanti akan di dapat.
Di era yang serba modern saat ini kita sepertinya sudah sulit menemukan orang-orang normal yang berani berdarah-darah berjuang untuk mencapai sebuah hasil yang memuaskan. Kita hidup dimana teknologi memudahkan segala sesuatu. hal itu turut mempengaruhi cara berpikir dan bertindak. kebanyakan manusia telah dibonsai oleh atribut-atribut keserakahan sehingga cenderung mengorbankan nilai dan prinsip hidup dalam mencapai segala keinginannya.
Aku adalah salah satu anak manusia yang membenci hal itu. Bagiku lebih baik berdarah-darah dalam usaha menaiki anak tangga kehidupan sehingga terbiasa menahan terpaan topan diujung perjalanan daripada mengkhianati proses yang hanya akan membuatku mudah tumbang ketika badai kehidupan menerjang.
Lika-liku kehidupan memang menyajikan berbagai rintangan, namun aku masih percaya pada kalimat penuh makna bahwa "hasil tidak pernah mengkhianati sebuah proses". Layaknya sebuah rumah yang dibangun dengan penuh kesabaran untuk menghasilkan pondasi yang kokoh dan tembok yang kuat maka setiap topan pasti akan siap dihadang.
Dunia ini butuh pejuang untuk memahami seni dalam menaklukkan hidup. dunia ini butuh renungan panjang dan usaha tanpa batas untuk melalui setiap kesulitannya. Dunia ini bukan bukan kertas yang dilipat sehingga tak ada jalan pintas yang membawamu pada puncak kesuksesan tanpa melalui anak tangga kehidupan.
Hidup yang tak direnungkan tak layak dijalani (Aristoteles)
Makassar, 13 Februari 2016
~. Abdul Ajiz Siolimbona .~

ANOMALI KEPEMIMPINAN

Kita seakan sengaja dikaburkan tentang konsep kepemimpinan agar mudah dipolitisir sesuai kehendak pihak yang ambisius. Kita sejak masih sekolah dasar hingga masuk bangku kuliah rasanya tak pernah diajarkan konsep kepemimpinan secara utuh, baik dalam hubungannya yang vertikal (manusia kepada Tuhan) ataupun yang horizontal (manusia kepada manusia).
Jika kedua hal itu disalahpahami karena disalah ajarkan maka beginilah nasib rakyat yang terombang-ambing ditelan badai argumen para politisi yang asik berselancar di atas ombak kebodohannya.
Jika kepemimpinan di negeri ini menyangkut kepemimpinan vertikal maka saya yakin tidak semua presiden sebelumnya layak menjadi pemimpin, tapi jika hanya kepemimpinan horizontal maka silahkan tanyakan kepada sejarah seberapa besar kemajuan telah mereka capai di tiap periode kepemimpinannya?!
Sekarang rasanya menjadi janggal ketika para manusia bersorban di negeri ini menyatakan bahwa dilarang memilih pemimpin (gubernur) non muslim di saat sejarah telah mencatat bahwa gubernur Jakarta yang ke 7 adalah seorang katholik dan saat itu tak ada suara sumbang untuk menolak kepemimpinan sang umat katholik tsb atas dasar perbedaan keyakinan. Dan ini kemunafikan terbesar dalam sejarah perpolitikan di Indonesia.
Bahkan mereka seperti merasa hampir punah disaat anomali kepemimpinan di Indonesia mendapatkan moment terbaiknya. Setelah era orde lama negara ini sekian lama dipimpin oleh empat orang pria dan seorang wanita yang semuanya berperawakan gemuk, namun kini setelah hadir pria kurus nan ceking itu mereka malah mencaci maki setiap senti langkah keputusannya.
Mereka yang terbiasa hidup dalam cumbu rayu para pemimpin dengan retorika yang meninabobokan mereka di atas pusara kejujuran kini seolah hampir mati dengan bahasa yang lugas, tegas, dan berasa terlampau pedas bagi pejabat berhati hewan buas namun berbulu hewan unggas.
Seakan-akan mereka lupa dengan sosok Bung Karno yang kata-katanya pun tak kalah keras jika sudah menyangkut harkat dan martabat rakyat yang tertindas, hingga Amerika pun Ia libas.
Maka tetaplah was-was agar dirimu tetap menjadi waras, karena hidup ini layaknya di laut lepas. Yang tak pandai membaca kompas, kan terhempas gelombang hingga tak berbekas


~. Abdul A. Siolimbona.~